Page 275 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 275
Ahmad Nashih Luthfi
Sebagai petanda yang baik, pentradisian ilmu pengetahuan
dapat dilihat dari bagaimana ia berhasil diakumulasikan, lokasi
dan temuannya menjadi situs yang dikunjungi dan ditelaah ulang
guna menguji dan melihat kembali persistensi dan perubahannya.
Hasil skripsi Gunawan Wiradi agaknya tepat dalam penyebutan
itu. Setidaknya ada dua studi yang dilakukan berangkat dari
temuannya.
Pertama, penelitian Tim Sejarah di PSPK UGM tahun
1981-1982 yang diketuai oleh Dr. Loekman Soetrisno dengan
judul “Purworejo: Ngandagan Revisited”. Penelitian menunjuk-
kan tentang efektivitas penguasaan tanah meski dalam ukuran
kecil dalam meningkatkan produksi pertanian. Penelitian menye-
but persoalan kepincangan penguasaan tanah dan perlunya
dilakukan landreform. Meski perlu dilakukan, “namun berbagai
upaya kebijaksanaan pertanian yang sudah dijalankan yaitu
program intensifikasi dan perbaikan irigasi cukup banyak mem-
bantu meningkatkan produksi”. 63 Proyek padat karya menjadi
saran dalam riset ini, suatu preferensi yang tepat dalam konteks
pembangunan pertanian Orde baru.
Kedua, penelitian berjudul “Kepemimpinan dan Masalah
Pertanahan di Pedesaan Jawa: Kasus Desa Nampu dan Desa
Ngandagan” oleh Bambang Purwanto. 64 Penelitian sejarah yang
diselesaikan tahun 1984 ini membandingkan dua desa, Nampu
dan Ngandagan, pada tahun 1946-1963. Kedua desa mengalami
proses dan menunjukkan respon yang berbeda menghadapi
tekanan, baik secara internal maupun eksternal: penduduk,
ekonomi uang, dan teknologi. Desa pertama memberi gambaran
tentang terjadinya alih kepemilikan tanah yang jatuh ke tangan
63 Ringkasan riset yang masih berjalan saat itu dapat dibaca dalam
Mubyarto dan Sartono Kartodirdjo, Pembangunan Pedesaan di Indonesia
(Yogyakarta: Liberty untuk PSPK), 1990.
64 Penelitian yang semula berasal dari skripsi Sejarah di UGM ini
diterbitkan dalam Bambang Purwanto, Kepemimpinan dan Masalah Pertanahan di
Pedesaan Jawa: Kasus Desa Nampu dan Desa Ngandagan (Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal kebudayaan, Proyek penelitian
dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1985).
222

