Page 270 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 270

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   soeoed [Sadjad] merangkap HMI dan CGMI. Dulu tidak dikotak-
                   kotak, baru tahun 1964 mulai ada pengkotakan”.  52
                   Dalam historiografi Indonesia, CGMI diidentikkan sebagai
               onderbouw PKI. Pewacanaan semacam itu bukan berarti tidak be-
               nar. Namun diperlukan memahami proses-proses dan keraga-
               man 53  yang terjadi saat itu dan kepentingan di balik pewacana-
               annya oleh Orde Baru.
                      Hardoyo menjelaskan proses bagaimana CGMI mencan-
               tolkan diri pada PKI.

                   “Saya Ketua Umum Pusat ketiga tahun ‘60-’63. Tapi di situ tahun
                   yang sangat berat. Karena waktu itu dalam Demokrasi Terpimpin
                   ada nasakomisasi. Pada tahun ‘64 CGMI ditantang, kalau CGMI
                   tidak menyatakan ‘Kom’ [komunis], dalam dewan-dewan mahasis-
                   wa tidak boleh duduk sebagai dewan, karena dewan mahasiswa
                   harus Nasakom, kata HMI dan sebagainya. Akhirnya CGMI tanya
                   ke PKI, ‘Bolehkah CGMI menyatakan dirinya Kom?’. [dijawab],
                   ‘Ya nggak bisa, wong kamu Kom-nya siapa? Wong CGMI (ada)
                   macem-macem. Akhirnya ada kompromi. Tahun ‘64 saya sudah tidak
                   ketua umum lagi, diganti ketua umum yang baru. Di situ sistemnya
                   menjadi Organisasi Mahasiswa Komunis dan Progresif non-
                   Komunis. Kemudian tahun 1964 memang sih untuk CGMI bisa
                   berkembang, memang harus terpaksa menerima mewakili Kom,
                   padahal sebenarnya dalam CGMI yang disebut Kom itu mungkin
                   anak-anaknya orang PKI yang nggak lebih dari 2%. Anggota CGMI
                   tahun 1964 jumlahnya 18.000.” 54





                   52  Wawancara Moh. Shohibuddin, A. N. Luthfi, dan Eko Cahyono dengan
               Gunawan Wiradi, Bogor, 9 Februari 2008.
                   53  Demikian halnya terjadi pada berbagai organisasi yang selama Orde Baru
               diidentikkan dengan PKI, terutama Gerwani dan Lekra. Runtutan logikanya
               adalah, meski pendasarannya sering tidak masuk akal bahkan tidak diperlukan
               dasar sama sekali dalam pewacanaan itu: komitmen kerakyatan-radikal-komunis-
               ateis-kriminal-pantas disingkirkan. Mengenai Gerwani dapat dibaca dalam Saskia
               Eleonora Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia--terjemahan
               Hersri Setiawan (Jakarta: Garba Budaya, 1999); tentang keragaman Lekra ada
               dalam Keith Foulcher, Social Commitment in Literature and Arts: The Indonesian
               "Institute of People Culture" 1950-1965 (Victoria: Monash University Press, 1986);
               dan Hilmar Farid, “Pramoedya dan Historiografi Indonesia”, dalam Henk Schulte
               Nordholt, Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari, Perspektif Baru Penulisan Sejarah
               Indonesia (Jakarta dan Bali: YOI, KITLV, dan Pustaka Larasan, 2008), hal. 79-
               110.
                   54  Wawancara Wimar Witoelar dengan Hardoyo, op.cit.
                                                                        217
   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275