Page 266 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 266
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
Selain itu, perubahan lain yang sangat dirasakan mahasiswa
Bogor saat itu adalah berlakunya sistem ujian baru. Dalam sistem
Belanda ujian dilakukan di akhir tahun setelah menempuh
perkuliahan selama setahun penuh. Skala penilaian diberikan da-
ri 1 hingga 10. Ujian dilakukan secara lisan. Sementara sistem
Amerika menggunakan sistem penilaian relatif (A, B, C, D) da-
lam kurva absolut. Ujian disampaikan secara tertulis dalam
jumlah pertanyaan yang sangat banyak (100 pertanyaan misal-
nya), juga berlakunya sistem kehadiran (presensi).
Sedangkan sebelumnya mahasiswa terbiasa dengan perta-
nyaan yang berjumlah 2-3 dengan jawaban yang sifatnya uraian
panjang. Akibatnya, sebagian ada yang diuntungkan namun seba-
gian besar lainnya merasa dirugikan. Akhirnya banyak mahasiswa
yang protes, demo. Di sinilah senat turut memperjuangkan ke-
pentingan mahasiswa. “Jangan demo, nanti saya rundingkan.
Lalu saya negosiasi dengan Fakultas, dengan dekan Pak Tho-
yib”. 44
Pada tahun 1958 juga, sebagai ketua senat, ia ditugaskan
mengikuti dan menyertai Pekan Olah Raga Mahasiswa di
Yogyakarta. Saat itu suasana politik nasional dengan adanya pe-
ristiwa PRRI turut mempengaruhi kehidupan mahasiswa, tidak
terkecuali kegiatan olah raga ini. Salah satu yang diingat Guna-
wan Wiradi adalah ketika ia dan seorang kawan dari Jawa Barat,
Hidayat Kusnadinata, dikeroyok oleh peserta dari Sulawesi.
Keduanya dianggap dari pusat (mewakili UI). Sementara saat itu,
sentimen anti pusat memang begitu mengeras. Hal serupa
dirasakannya saat di penginapan, bantal-bantal di atas kasur
ditulisi dengan kata-kata yang mencerminkan sentimen anti-
pusat. Dengan kesaksian ini, ia merasa heran jika wacana tentang
peristiwa PRRI pada masa Orde Baru disebutkan sebagai suatu
tindakan anti-komunisme, seakan-akan argumen ini hanya untuk
melegitimasi tindakan perlawanan terhadap pemerintahan Soe-
44 Wawancara Noer fauzi dan Ratna Saptari dengan Gunawan Wiradi,
Leiden, 16 Februari 2005
213

