Page 250 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 250

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               hati, lantang, dan serius, sang paman berkata: “Engkau anak se-
               orang janda! Melarat! Tidak mampu membiayai sekolahmu! Te-
               tapi, engkau tidak boleh menangis. Sepanjang hidupmu dalam
               keadaan apapun jangan sekali-kali engkau menangis, mengerti?!”
               Mendengar itu, si bungsu justru meledak tangisnya. Karena itu,
               ia lalu dimasukkan ke dalam kamar dan dikunci dari luar, agar ...
               “menangis sendirian!”.
                   Pendidikan formal Gunawan Wiradi di tingkat sekolah dasar
               tidak keruan. Suatu saat dia harus ikut tinggal serumah dengan
               kakak iparnya yang saat itu bekerja sebagai staf employee Pabrik
               Gula Tjolomadu. Ia harus pindah sekolah. Tetapi di daerah Tjo-
               lomadu tidak ada sekolah HIS, adanya di Kartosuro yang ber-
               jarak sekitar 8 km dari Tjolomadu. HIS adalah sekolah swasta
               Protestan. HIS Sedyo Mulyo, tempat Gunawan sekolah di Karto-
               suro, dipimpin Maulawi Simbolon (di kemudian hari menjadi
               Kolonel Simbolon, tokoh Dewan Gajah pada zaman PRRI). Ia
               harus berangkat ke sekolah dengan jalan kaki pulang-pergi setiap
               hari. Tidak lama kemudian ia bersama ibunya pindah ke Karto-
               suro, agar bisa mendekati tempat sekolah.
                   Meskipun hanya sekitar satu setengah tahun, pengenalan
               terhadap daerah pedesaan areal tebu dari PG. Tjolomadu itu ter-
               nyata cukup membekas di benaknya. Tentu saja istilah “agraria”
               belum dikenalnya saat itu, namun berbagai istilah semisal “tanah
               gogolan”, “glebagan padi-tebu”, dan lain-lain, sudah mulai dike-
               nalnya meski secara lamat-lamat. Tanpa disengaja, hal ini telah
               membekali dasar pemahaman Gunawan Wiradi tentang pedesa-
               an dan rakyat petaninya. 9
                   Di sekolah itu Gunawan Wiradi sempat menjadi “anak-
               emas” sang kepala sekolah. Jika Simbolon membawa limun atau
               roti ke sekolah, ia selalu diberinya. Sebenarnya ia betah di seko-
               lah ini. Namun karena sesuatu hal, sekali lagi Gunawan Wiradi
               kecil beserta Ibunya harus pindah kembali ke kota asalnya, So-
               lo. 10



                   9  Ibid., hal. xiv.
                   10  Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 3 Juni 2007.
                                                                        197
   245   246   247   248   249   250   251   252   253   254   255