Page 210 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 210

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   Pengalaman SAE memberi arti beberapa hal dalam pengem-
               bangan “Metodologi Sajogyo”. Pertama, dengan berorientasi pada
               “hadap masalah” atau “problem oriented” (bdk. “survey masalah”)
               maka kompleksitas persoalan menyaratkan agar tidak hanya
               didekati dari satu disiplin ilmu. Pengorganisasian Tim SAE dari
               berbagai  latar  belakang  disiplin  ilmu  berpotensi  dikem-
               bangkannya pendekatan yang bersifat interdisiplin, dan inilah
               yang telah dilakukan oleh SAE.
                   Lima judul laporan pertama di atas (lihat catatan kaki No.
               45), terkecuali tentang BIMAS, adalah bidang ekonomi dengan
               ketua tim yang dididik sebagai ekonom, namun semua laporan
               mampu menjelaskan dinamika sosial politik Indonesia saat itu.
               Hal ini tidak terlepas dari peran Ketua BP-SAE, Sajogyo, sebagai
               seorang sosiolog yang menekankan bahwa apa yang umumnya
               dianggap sebagai fakta ekonomi murni memiliki arti yang jauh
               dapat dicakup oleh teori ekonomi. Ia dapat digunakan untuk
               menguji hipotesa perilaku sosial politik masyarakat. Pernya-
               taannya yang terkenal sebagaimaan dikutip di atas (lihat catatan
               kaki No. 9) memberi kesadaran akan hal itu, saling kait-meng-
               kaitnya persoalan sosial-ekonomi dalam dinamika kebudayaan
               dan politik masyarakat Indonesia. 73
                   Berpikir dalam kerangka budaya dan politik atas kondisi
               ekonomi, dan sebaliknya melihatnya secara ekonomi atas
               fenomena budaya dan politik, seakan-akan menapaki jembatan
               antara ujung “kultural” dan “struktural”. Kesadaran semacam ini
               langka dijumpai dalam sejarah ilmu sosial kolonial yang justru
               (dalam kasus Snouck Hurgronje, misalnya) memangkas persoalan
               budaya (agama) dari medan politik dan ekonomi-nya. 74  Hal ini
               juga mencerminkan semangat ilmu pengetahuan sosial pasca
               kemerdekaan yang hendak mencari relevansi sosialnya melebihi
               relevansi teoretisnya, jika yang terakhir ini diartikan sebagai
               kekakuan dan terkotak-kotakkannya (compartments) disiplin ilmu

                   73  David Penny, 1971, op.cit., hal. 122.
                   74  Tujuan awal SAE sebagaimana dinyatakan Sajogyo, merintis kajian so-
               sial-ekonomi di Deptan yang seringkali disikapi secara teknis dan ekonomis,
               dengan demikian telah tercapai.
                                                                        157
   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215