Page 207 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 207
Ahmad Nashih Luthfi
“Bahwa dalam proses itu banyak tenaga buruh tani, terutama
buruh panen dengan upah natura tersisihkan di desa Jawa: beralih
dari alat ani-ani ke alat sabit. Bahkan timbul pengerahan buruh
panen secara “terbatas” oleh “pengusaha pemborong panen
gabah”—bukan padi bertangkai—yang dipercaya oleh petani
pemilik sawah. Waktu itu juga mulai berkembang usaha kecil
penggilingan gabah (huller) yang juga menyingkirkan buruh
wanita”. 64
Sensitivitas dan kemampuan Sajogyo dalam mengungkap
kondisi lapisan terbawah atau “kaum miskin dari termiskin”
masyarakat tani dan meletakkannya dalam kerangka desa dalam
konteks komunitas dan kelembagaan, dapat mendeteksi
“kejanggalan-kejanggalan” dan ketimpangan yang diakibatkan
dalam pelaksanaan Revolusi Hijau dengan berbagai paketnya.
Jika Revolusi Hijau tidak menempatkan lapisan mayoritas ini
sebagai penerima keuntungan (subject of beneficiaries) dan pelaku
dari inisiatif itu, maka cemoohan yang menyatakan “pelaksanaan
program pemerintah secara tiba-tiba, pertama-tama akan menjadi
‘tontonan’ (show business), setelah itu akan menjadi ‘lelucon’
(monkey business)” , 65 menjadi terbukti. Hal ini menggambarkan
kegagalan pemerintah meresapi sejauh mana petani dimotivasi
oleh dorongan-dorongan ekonomi.
Demikianlah, dalam ketimpangan struktur dan kondisi
seperti di atas, modernisasi pertanian melalui Revolusi Hijau
hanya akan memperkuat kelas petani pemilik tanah luas.
Kelompok lemah pedesaan menjadi semakin tertinggal.
Akibatnya, mereka (dipaksa) meninggalkan lumpur sawahnya,
pekarangan dan desanya, untuk memasuki kota-kota sebagai
64 Sajogyo, 2002, op.cit., hal. 3. Temuan kritis ini sangat berpengaruh dan
banyak dibicarakan hingga membuat pemerintah merasa gerah. Jauh hari
setelahnya, pemerintah masih dibuat gerah dengan temuan itu, sampai-sampai
Presiden Soeharto menyatakan, "…ternyata di dalam negeri ada yang mengatakan
seolah-olah proses pembangunan kita selama 15 tahun ini, bahkan 18 tahun,
merupakan proses pemiskinan terhadap rakyat kita... Sebagai bukti terjadinya
proses pemiskinan, para ahli itu menunjukkan jumlah petani yang memiliki lahan
sempit makin lama makin bertambah sempit", “Sebuah Pertanyaan Di Desa
Made”, Tempo, 28 Desember 1985. Meski tidak menyebut langsung siapa yang
disindirnya, agaknya cukup berdasar untuk menduga jika yang dimaksud adalah
kelompok SAE, atau setidak-tidaknya “para ahli” yang pernah terlibat dan/atau
menggunakan data-data SAE sebagai dasar argumennya.
65 David Penny, 1971, op.cit., 124.
154

