Page 202 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 202
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
adalah, pertama, dilakukan secara “mikro”. Pendekatan ini ber-
guna dalam mengkonfrontasi gambaran “mezo” maupun “makro”
sehingga bermanfaat saling mengkoreksi dalam pelaksanaan
kebijakan. Kedua, yang terpenting dalam survei tersebut adalah
pertanyaan tentang usaha tani dan hubungannya dengan
aktivitas bisnis dan pemrosesan produk pertanian, serta perilaku
petani dan pihak-pihak lain yang terkait dalam hubungan itu.
Ketiga, analisa terhadap kelembagaan baru bagi petani, seperti
koperasi, dan analisa tentang kemampuan kerja tenaga kerja baru
dalam pertanian dan perkebunan di level bawah (seperti mandor,
dll.).
Dari cara memilih jenis kegiatan tersebut, SAE tidak
bermaksud menyaingi dinas-dinas atau lembaga-lembaga negara
yang melakukan “turne pendek” dalam melakukan analisa kilat
terhadap suatu masalah; tidak juga mengikuti cara kerja “survei”
dan sensus secara meluas sebagaimana BPS dengan tenaga yang
mencapai ribuan, sebab tidak mungkin dilakukan SAE; dan tidak
pula jenis “country study” seperti yang sering dihasilkan oleh
badan-badan internasional (seperti FAO, dll.). 50
Sifat dari kegiatan SAE adalah “mengikuti cara-cara kerdja
jang se-sistematis mungkin” (dalam kegiatan “dokumentasi”).
Untuk kegiatan “statistik” dan “survei masalah”, kerja SAE lebih
bersifat pragmatis dengan memilih masalah-masalah strategis dan
mendesak umumnya atas “pesanan” pihak policy maker yang
berkepentingan. 51
Kesemua staf SAE bekerja secara part-time. Keragaman tim
tampak dari komposisi keanggotaan yang berasal dari kemen-
terian, perusahaan negara, biro pusat dan kampus. Meski demi-
kian, dalam melakukan survei mereka masih sangat tergantung
dari tenaga ahli kampus yang umumnya berasal dari fakultas per-
Ekonomi Perusahaan-Perusahaan Pengolah Padi di Djawa Chususnja di Dua Kabupaten
di Djawa Barat (1968); R. S. Sinaga Faisal Kasryno, dan Amris Makmur,
Pengusahaan dan Tataniaga Karet Rakjat di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan
(1968); dan Moeliono Partosoedarso dan Amris Makmur, Tata Produksi dan Niaga
Kopi di Indonesia (1968).
50 Egbert de Vries, loc.cit
51 Kampto Utomo, op.cit., hal. vi
149

