Page 206 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 206
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
Kedua, tidak dijalankannya UUPA dan UUPBH 1960
menjadikan petani bagi hasil (bukan penyewa) tidak memiliki
otonomi penuh dalam mengatur pertaniannya di hadapan pemi-
lik tanah. Padahal sistem penyekapan (tenancy system) yang ada di
Indonesia mayoritas adalah bagi hasil dan bukan sewa-menyewa.
Dibandingkan dengan bagi hasil, persewaan lebih memberi ke-
kuatan penuh pada pihak penyewa dalam mengelola tanahnya.
Ketiga, lemahnya institusi desa di tengah massa yang meng-
ambang (pasca 1965). Kelembagaan desa telah berubah menjadi
wakil dari kekuatan di atasnya (mengatur pelaksanaan program
pemerintah) daripada berfungsi sebagai “organisasi penggerak”
yang mendidik warganya. Massa tidak hanya mengambang secara
politik namun juga secara sosial-ekonomi ketika modernisasi re-
lasi ketenagakerjaan terjadi. Akibatnya, “tidak ada klien yang bi-
sa pergi ke begitu banyak patron untuk menyuarakan pendapat-
nya”. 62
Sajogyo menunjukkan siapa rakyat itu dengan merujuk
Sistem Neraca Sosial Ekonomi Nasional (SNSE) dari BPS
dengan cara membedakan “pertanian” dan “bukan-pertanian”.
Dari kelompok “pertanian” terdapat 3 golongan: petani gurem
(memiliki tanah kurang dari 0,5 ha) yang berjumlah 34%; buruh
tani 37%; dan petani bukan gurem 26% (tahun 1978). Dua ke-
lompok pertama itulah yang sejatinya disebut sebagai “rakyat”.
Kelompok yang bukan gurem berpotensi di dalam aktivitas
bukan pertanian dan meningkat menjadi farmer. 63
Selain itu, kritik SAE yang “membuat heboh” terhadap
program Revolusi Hijau berasal dari riset-riset yang dihasilkan
oleh William Collier dkk., sewaktu ia bertugas menjadi konsultan
SAE pada tahun pada tahun 1969.
62 Sajogyo, 2006, op.cit, hal. 171.
63 Analisa ini dinyatakan kembali tahun 2002. Lihat, Sajogyo, “Pertanian
dan Kemiskinan”, dalam Sajogyo dan Sumantoro Martowijoyo, Pemberdayaan
Ekonomi Rakyat dalam Kancah Globalisasi (Bogor: Sajogyo Inside, 2005), hal. 67.
Dengan melihat rata-rata data sejak tahun 1990-an, Sajogyo menemukan bahwa
laju pertambahan jumlah petani gurem 1,5% dan buruh tani adalah 5,0%.
Artinya, terjadi agricultural ladder.
153

