Page 183 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 183
Ahmad Nashih Luthfi
tiga tahun. Di kota pedalaman ini, ayahnya bertugas menjadi
kepala sekolah. Meski tinggal di kota kecil, keluarga ini berlang-
ganan majalah de Locomotief, sebuah majalah yang bisa dianggap
radikal. Kampto Utomo senang membaca rubrik anak-anak dan
berita olah raga. 4
Tidak sampai lulus di HIS Barabai, Kampto Utomo melan-
jutkan kepindahannya ke Kediri, Jawa Timur pada tahun 1938.
Di sini ia menamatkan HIS. Hanya setahun sekolah MULO di
Kediri, ia melanjutkannya di Purwokerto hingga masa Jepang
yang telah berubah menjadi SMP. Selepas dari Purwokerto, ia
melanjutkan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Yogyakarta,
tepatnya di Kota Baru (kini menjadi SMA III). 5
Nilai olah raga Kampto Utomo di rapor tercatat angka 9.
Namun ketika ia lari pagi dengan kawan-kawannya di dekat Kri-
dosono, ia terjatuh dan muntah darah. Ia diangkut ke RS. Panti
Rapih dan mendapat perawatan beberapa hari. Vonis dokter me-
nyatakan bahwa ia terkena penyakit TBC. Vonis itu mengha-
ruskannya pindah ke Purwokerto, agar dapat dirawat di sanatori-
um Baturaden. Peristiwa ini terjadi tahun 1944, ketika ia masih
bersekolah di SMT. 6
Akibat sakit ini dan perawatannya di sanatorium, Kampto
Utomo sangat peka dalam masalah suhu udara dan sangat hati-
hati dan tertib dalam menjaga kesehatannya. Dalam perawatan
itulah, ia menemukan kekasih hatinya, Soekemi, meski tidak
pernah dinikahinya sebab meninggal terlebih dahulu. Ia kemu-
dian bertemu dengan Hesti, gadis yang juga dirawat di sanatori-
um dan 12 tahun lebih tua. Gadis inilah yang kemudian dinika-
hinya. 7
4 Eka Budianta, Bertemu Sajogyo (Bogor: BRI, Agro Ekonomi, dan SAINS,
draft versi 2009), hal. 57.
5 Suratmin, Prof. Dr. Ir. Sayogyo, Hasil Karya dan Pengabdiannya (Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983), hal. 10-12.
6 Eka Budianta, op.cit., hal. 9.
7 Episode sanatorium ini dikisahkan secara prosaik oleh Eka Budanta, Ibid.
130

