Page 178 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 178

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               dan kulturalnya justru berada pada tempat yang paling bawah.
               Mereka dihinakan oleh umat manusia lainnya”. 109
                   Cara modern dalam “mentjapai kemakmoeran petani” meru-
               pakan gagasan yang tumbuh subur pada periode awal BTI.
               Moch. Tauchid merupakan eksponen dalam gagasan itu, dan ma-
               sih tampak ketika ia memimpin GTI. Sebagai Ketua Bagian Sosi-
               al Ekonomi BTI, ia merumuskan bagaimana seharusnya moderni-
               sasi pertanian itu dilakukan. 110  Rumusan itu ditulisnya pada ta-
               hun 1947 setelah berlangsung Kongres BTI di Jember.
                   Pada masa itu, modernisasi pertanian (dan term pembangu-
               nan 111 ) berbeda jauh pemahamannya dengan ideologi modernisme
               yang dianut dalam pembangunan pertanian Orde Baru. Moderni-
               sasi yang dimaksudkan dalam tulisan itu adalah pemakaian pu-
               puk (pupuk kimia adalah salah satu dari 3 lainnya yang alami),
               pengadaan kebun bibit desa, pendidikan dan peningkatan penge-
               tahuan kaum petani, pembentukan dan pendidikan kader tani,
               serta pengajaran dan kursus kader BTI. 112
                   Membaca selebaran itu akan terasa beberapa kesan. Pertama,
               sudah pada tempatnya gerakan tani menaruh kepercayaan tinggi
               dan bekerjasama dengan pemerintah (Djawatan Pertanian). Jus-
               tru dengan kuatnya organisasi tani, kinerja pemerintah akan
               menjadi mudah dijalankan. 113  Kedua, upaya pemandirian kaum

                   109  Ibid. Ide dibalik gugatan ini tercermin kembali dalam azas dan tujuan
               GTI, pasal 4 ayat 1. Badan Usaha Penerbit Almanak Pertanian, op.cit., hal. 147.
                   110  Moch. Tauchid, “Mentjapai Kemakmoeran dengan Modernisasi Perta-
               nian”, Barisan Tani Indonesia, 1947.
                   111  Kata “pembangunan” telah lazim digunakan pada periode ini, bahkan sejak
               kemerdekaan. Saat itu, arti yang dimaksud adalah membebaskan diri dari mentalitas
               bangsa terjajah; membangun susunan masyarakat baru yang adil; membangun
               kesejahteraan rakyat. Gunawan Wiradi, 2009, op.cit., hal. 94. Sementara arti
               “Pembangunan” (“P” besar) terkait dengan suatu proyek intervensi berupa capitalist
               development pasca Perang Dunia II terhadap negara-negara “Dunia Ketiga” yang
               berkembang dalam konteks dekolonisasi dan perang dingin (cold war). Noer Fauzi,
               “Desentralisasi dan Community Driven Development dalam Konteks Pembangunan
               Kapitalis: Suatu Kajian Teoritis”, 2009, tt., tt.
                   112  Simak, Ibid., hal 1-8.
                   113  Orde Baru justru menjadikan organisasi massa mandul akibat kebijakan
               “floating mass”. Mereka didepolitisasi dan kosa kata “politik” menjadi sesuatu
               yang tabu. Dengan demikian, warga negara tidak lebih adalah property dari
                                                                        125
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183