Page 184 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 184

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               B. Pertanian: Meleburnya Unsur Natura dan Unsur Huma-
                   na

                   Sejak sekolah menengah pertama, Kampto Utomo telah
               tertarik dengan bidang pertanian. Ketertarikan bermula dari sang
               paman, Amin Tjokrosuseno, seorang insinyur muda lulusan
               kehutanan yang telah bekerja mengurus perkebunan di Pekan-
               baru. Setiap kali liburan, ia berkunjung ke kakaknya, ibu dari
               Kampto Utomo. Ia membawakan keponakannya foto-foto ten-
               tang petani dan berbagai alatnya. Cerita tentang kehidupan pe-
               tani dan pedesaan disimak benar oleh bocah Kampto Utomo ini.
               Ia tertarik, sehingga ketika lulus MULO ia mendaftar ke Sekolah
               Pertanian Menengah Atas, Bogor. Namun ia urung memasukinya
               dan lebih memilih SMA di Yogyakarta.
                      Pengalamannya sewaktu menjadi tentara pelajar, ter-
               gabung dalam kelompok Sudirman di Purwokerto dan berlanjut
                                            8
               di Solo bersama Slamet Riyadi , menambah pengertiannya ten-
               tang kehidupan tani dan pedesaan. Selepas SMA, pada tahun
               1949 dia segera melanjutkan ke Universitas Indonesia, Fakultas
               Pertanian yang kampusnya ada di Bogor. Di fakultas ini ia meng-
               ambil jurusan yang sering disebut dengan “Sosek” (Ilmu-ilmu So-
               sial Ekonomi Pertanian). Fakultas Pertanian bersama Fakultas
               Peternakan dan Kedokteran Hewan kemudian pada tahun 1963
               melepaskan diri menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB). Pendi-
               rian ini disahkan melalui keputusan Presiden RI, No. 2791, Ta-
               hun 1965. 9
                   Selama kuliah di sana, Kampto Utomo menerima beasiswa
               ikatan dinas dari pemerintah. Di kampus inilah, Kampto Utomo
               mulai mengembangkan pemikirannya dan meneliti, sampai
               akhirnya di kemudian hari dijuluki sebagai perintis pemikiran
               pembangunan desa dan studi agraria Indonesia. Selama kuliah, ia
               belajar pada Prof. Teko Sumodiwiryo, seorang ahli penyuluhan
               yang memajukan koperasi tahun 1930-an. Mengenai bagaimana
               “pengaruh luar” masuk dalam masyarakat pedesaan Indonesia, ia


                   8  Riwayat periode ini disajikan oleh Suratmin, Ibid., hal. 15-24.
                   9  “Landbouw Hogeschool Cikal IPB”, Suara Pembaruan, 30 November 2004.
                                                                        131
   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189