Page 171 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 171
Ahmad Nashih Luthfi
kawannya: Wijono Suryokusumo, S. Sardjono “Petruk”, Djadi,
Asmoe Tjiptodarsono, dan Sajoga, ia mendirikan BTI.
Pendirian BTI merupakan hasil kongres petani di Yogya-
karta antara 22-25 November 1945. Semula dilangsungkan rapat
tani dan buruh di Surakarta pada 5-7 November 1945 yang di-
hadiri sekitar 2000 orang. Namun utusan tani ternyata tidak me-
wakili keanggotaan partai yang saat itu baru dibentuk. Maka
segeralah dilangsungkan kongres khusus organisasi tani. 85 Dalam
kongres itulah, tokoh-tokoh di atas menjadi pendirinya.
BTI semula adalah kelompok kader petani yang dibina oleh
Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Yogyakarta. 86 Pada
awal pendiriannya, para pemimpin merasa bahwa mereka masih
belum memahami sepenuhnya persoalan kaum tani. Para pendiri
tersebut umumnya adalah kaum terpelajar kota. Pemahaman
tersebut diperoleh dari hasil kajian, terkecuali Moch. Tauchid
yang mempunyai latar belakang anak seorang janda bakul
gendong, yang hanya memiliki tanah sempit untuk menghidupi 7
anaknya. 87 Latar belakang inilah yang memberi imajinasi
Tauchid tentang kehidupan kaum tani.
Tauchid adalah anggota eksekutif komite partai (bagian komunikasi) hasil fusi di
Cirebon antara Partai Sosialis Indonesia (Parsi) pimpinan Amir Sjarifuddin dan
Partai Rakyat Sosialis (Paras) pimpinan Sjahrir. Bersama Wijono ia disebut
sebagai “Kelompok Yogya” yang terlibat dengan Amir dalam mendirikan Parsi.
Lihat, Ben Anderson, Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa,
1944-1946 (Jakarta: Sinar Harapan, 1988), hal. 234. Pengalaman masa remaja
Tauchid di Purwokerto sebagaimana dituturkan kepada anaknya menunjukkan
bahwa ia lebih dekat dengan kelompok Sjahrir. Hal ini diperkuat juga oleh Kenji
Tsuchiya. Lihat, Kenji Tsuchiya, Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan
Taman Siswa (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hal. 156. Bahkan untuk mengenang
Sjahrir, ia menulis buku berjudul, Mengenang Pahlawan Sjahrir (Yogyakarta:
Jajasan Sjahrir , 1966).
85 Noer Fauzi, Petani dan Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria
Indonesia. (Yogyakarta: Insist dan KPA, 1999), hal. 131.
86 P.J. Suwarno, Hamengku Buwono IX dan Sistem Birokrasi Pemerintahan
Yogyakarta, 1942-1974: Sebuah Tinjauan Historis (Yogyakarta: Kanisius, 1994),
hal. 203. Wijono Suryokusumo, S. Sardjono, dan Moch. Tauchid tercatat sebagai
anggota KNID Yogyakarta. Ibid., hal. 439.
87 Imam Yudotomo, Kakung-Uti: Moch. Tauchid-Kastariyah, Catatan untuk
Cucu-cucunya, tidak diterbitkan, 2004, hal. 2.
118

