Page 102 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 102
Sambil menunggu pesanan datang hingga makanan tersaji,
suasana riuh dengan aksi saling ejek. Kalimat-kalimat sarkas dan
candaan yang mungkin terdengar kasar bagi orang lain adalah
cara kami mengungkapkan kasih sayang. Physical touch itu biasa,
tapi bagi kami, saling menjatuhkan mental dengan candaan adalah
love language yang paling hakiki.
Begitu suapan terakhirnya tandas, Farras beranjak menjauh.
Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebatang rokok
dan menyulutnya. Aku melayangkan protes seperti yang sudah-
sudah, namun dia hanya membalasnya dengan senyuman, seolah
berkata bahwa ini adalah jeda yang ia butuhkan setelah hari yang
panjang.
Sekembalinya dia ke meja dengan aroma tembakau yang
samar, raut wajahnya sedikit berubah. Ada guratan lelah yang tak
bisa disembunyikan.
"Bangunin aku besok pagi ya? Besok trainingnya di Jakarta Utara.
Aku harus berangkat subuh banget biar nggak terjebak macet gila-
gilaan," pintanya.
Dia mulai bercerita, mengeluhkan betapa menguras energinya
agenda pelatihan selama dua minggu terakhir ini. Aku
mendengarkannya dengan saksama, menjadi wadah bagi segala
penatnya. Namun, momen hangat itu sedikit terusik. Aku
102

