Page 98 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 98

"Kalo emang kamu non-muslim, ya sorry to say, kita nggak akan

          bisa jalan bareng lebih jauh,"  jawabku tegas namun tetap tenang.

          Aku masih yakin dia hanya sedang menguji reaksiku.
               Setelah  semua  makanan  berpindah  ke  perut,  kami

          memutuskan  untuk  mengakhiri  malam  yang  sederhana  itu.
          Pertemuan  singkat  yang  mungkin  bagi  orang  lain  biasa  saja,

          namun  bagiku,  setiap  detiknya  adalah  momen  "mahal"  yang

          kusimpan rapat dalam ingatan. Sebelum mesin motor dinyalakan,
          ia  mendadak  merogoh  saku  tasnya  dan  memberikan  kartu

          namanya  padaku.  Aku  menerimanya  dengan  dahi  berkerut.


          Maksudnya  apa?  Mau  pamer  pekerjaan? Pikirku  sinis,  namun
          tetap kusimpan kartu itu.

               Motor  meluncur  perlahan  menuju  arah  Jatiwaringin.

          Sepanjang jalan, ia tetap bersikukuh dengan argumennya bahwa
          dia  bukan  seorang  muslim.  Suaranya  terdengar  begitu

          meyakinkan  sampai-sampai  hatiku  mulai  goyah.  Aku  mulai

          berpikir,  apakah  selama  ini  aku  salah  menilainya?  Apakah  dia
          serius?

               Tepat saat aku mulai memercayai sandiwaranya dan merasa

          sedikit kecewa, dia tiba-tiba tertawa lepas dan mengaku bahwa
          dia tentu saja seorang muslim. Aku hanya bisa menghela napas

          panjang,  menatap  punggungnya  dengan  perasaan  campur  aduk


                                                                          98
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103