Page 93 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 93

Setelah  mencubit  pipiku  sekilas,  ia  berbalik,  bergegas

          menghampiri temannya itu tanpa menoleh lagi.

               Aku  melangkah  masuk  ke  dalam  kamar  dengan  perasaan
          campur  aduk.  Belum  sempat  aku  merebahkan  diri,  ponselku

          kembali menjerit.

          "Beb,  pinjam  setrika!" serunya  dari  seberang  telepon.  Aku
          menghela  napas  panjang.  Dengan  sisa-sisa  kesabaran,  kuambil

          setrika  itu,  menaiki  tangga  lalu  turun  kembali  hanya  untuk
          menyerahkannya. Benar-benar hari yang melelahkan dan penuh

          kerepotan yang tidak perlu.

               Waktu  merangkak  lambat.  Mataku  mulai  terasa  berat,
          namun  aku  masih  terjaga  hanya  untuk  menunggu  Farras

          mengambil  motornya.  Rasa  kesal  ini  kian  memuncak  karena

          ketidakpastian.

          "Beb,  masih  lama?  Aku  udah  ngantuk!" ketikku  dengan  jempol
          yang gemetar karena emosi. Ia menjawab bahwa mereka sedang

          makan.  Farras  mentraktir  Inva,  merasa  iba  karena  laki-laki  itu
          nekat berkendara motor dari Cianjur ke Jakarta hanya karena tak

          punya  ongkos  bus.  Sementara  untuk  malam  ini,  Farras  telah

          merekomendasikan sebuah apartemen nyaman bagi Inva.
          "Beb, kunci motorku taruh saja di teras. Kamu tidur duluan saja,

          nggak apa-apa,"  sebuah pesan masuk lagi.


                                                                          93
   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98