Page 89 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 89

dijemput  rasa  bosan,  ia  seketika  menoleh  dan  meminta  maaf

          karena sempat mengabaikanku. Sambil sesekali mengeluh pusing

          karena beban pekerjaan, ia meraih tanganku, menggenggamnya
          dengan  erat  di  atas  meja,  seolah  mencari  kekuatan  dari  sana,

          meski matanya tetap terpaku pada layar laptop.
               Saat makanan tersaji, alih-alih menyantapnya, ia justru sibuk

          melakukan panggilan telepon. Dengan bahasa Inggris yang fasih,

          ia mulai menginterview seorang calon karyawan bernama Ibnu.
          Aku  sempat  membatin,  apakah  ini  caranya  memamerkan

          kemampuan  di  depanku?  Namun,  harus  kuakui,  aku  sangat

          mengagumi  caranya  berkomunikasi  dalam  bahasa  asing.  Diam-
          diam, aku menyalakan perekam suara di ponselku, mengabadikan

          momen itu tanpa ia tahu.

               Setelah  telepon  usai,  kami  baru  benar-benar  menyentuh
          makanan,  meski  atensinya  tetap  terbagi  dengan  laptop  di

          hadapannya. Begitu piring-piring bersih, kami memutuskan untuk

          mengakhiri malam itu.
          "Nggak jadi lanjut nulis?"  tanyaku saat kami bersiap pergi.

          "Sinyal Wi-Fi di sini jelek, nanti aku lanjut di rumah aja,"  jawabnya

          singkat.
          Di depan kasir, ia mulai melancarkan aksi jahilnya. Ia mengejekku

          dengan  guyonan  receh  hingga  membuat  sang  kasir  tak  kuasa


                                                                          89
   84   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94