Page 92 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 92
Siang itu, rasa nelangsa merayap pelan. Aku merasa menjadi
satu-satunya orang yang tertinggal dalam sepi, apalagi saat tahu
Popay pun akan pergi berkencan dengan Majid, gebetan barunya.
Di balkon kosan yang sempit, aku menemani Popay menunggu
jemputan. Di sela perbincangan kami, aku berkali-kali
menggerutu. Inva, nama yang asing itu, seketika menjadi
antagonis dalam benakku karena kehadirannya merenggut waktu
yang seharusnya menjadi milikku dan Farras.
Menjelang senja, sebuah panggilan dari Farras memecah
lamunan. Ia ingin menitipkan motornya di kosanku. Setidaknya,
ada sedikit lega yang menyusup; aku bisa menatap wajahnya
meski hanya sejenak. Ia berjanji akan tiba sekitar pukul tujuh
malam.
Tepat waktu, ia muncul. Namun, pandanganku teralih pada
sosok pria yang duduk mematung di atas motor dari kejauhan.
Aku yakin itu Inva.
"Kok Inva di sana? Kenapa nggak diajak ke sini?" tanyaku,
mencoba ramah meski hati masih bergemuruh.
"Dia lagi merokok," jawab Farras singkat.
"Aku titip motor ya, Beb," lanjutnya sembari menyodorkan tangan.
Sebuah gestur yang menuntutku untuk berpamitan secara formal.
92

