Page 97 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 97

saat bertanya apakah aku keberatan makan di tempat sederhana

          seperti itu. Aku menggeleng mantap. Bagiku, kemewahan bukan

          terletak  pada  restorannya,  tapi  pada  siapa  yang  duduk  di
          hadapanku.

               Motornya terparkir di dekat sebuah tenda sederhana. Farras
          memesan  dua  porsi  nasi  kucing  dengan  tumpukan  sate  telur

          puyuh,  usus,  dan  ati  ampela  yang  tampak  menggugah  selera.

          Sementara  aku,  cukup  dengan  tusukan  sate  telur  puyuh
          kegemaranku dan segelas jahe hangat untuk mengusir dingin.

               Kami  duduk  lesehan  di  atas  tikar,  dikelilingi  riuh  rendah

          suara kendaraan yang lewat. Di sana, percakapan mengalir tanpa
          filter.  Farras,  dengan  sifat  jenakanya  yang  kadang  melampaui

          batas, mulai melancarkan aksi ledekannya. Entah angin apa yang

          membawanya, dia tiba-tiba berceletuk dengan wajah serius yang
          dibuat-buat bahwa dia bukan seorang muslim.

          "Aku nggak pernah bilang kalau aku muslim, lho,"  celetuknya datar,

          menatapku dengan tatapan yang sulit ditebak. Aku tertawa kecil,
          menganggapnya  hanya  angin  lalu.  "apaan,  waktu  kita  di  PIK

          kemarin kan kamu sholat?"

          "Itu cuma pura-pura aja, kan aku lagi  ngincer kamu   ," imbuhnya
          tanpa dosa, lengkap dengan senyum nakalnya.

          Aku terdiam sejenak, menatap matanya dalam-dalam.


                                                                          97
   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102