Page 94 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 94

Logikaku  menyuruhku  untuk  segera  terlelap,  namun

          nuraniku  menahan.  Rasanya  tidak  etis  membiarkan  kunci

          tergeletak begitu saja. Sekitar pukul 22.00 WIB, Farras akhirnya
          tiba. Tanpa basa-basi yang manis, tanpa obrolan penutup hari, ia

          hanya mengambil kunci dan bergegas pulang.
               Aku terpaku di ambang pintu, menatap punggungnya yang

          menjauh. Laki-laki itu benar-benar tidak peka. Bagaimana bisa ia

          menghabiskan  waktu  makan  bersama  temannya  tanpa  terpikir
          untuk membawakanku sedikit camilan atau sekadar menawariku

          makan?  Apalagi  setelah  seharian  penuh  aku  menjadi  asisten

          pribadinya yang serba bisa. Malam itu, aku menutup pintu dengan
          hati yang jauh lebih dingin dari udara Jakarta.





















                                                                          94
   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99