Page 107 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 107
Tak berselang lama, sosok Farras muncul dari balik pintu
dengan roman muka yang kentara sekali sedang menahan
kekesalan mendalam. Dengan nada bicara yang meletup-letup, ia
bercerita bahwa laporannya ditolak mentah-mentah dengan
alasan belum ada kerugian materiil. Sungguh sebuah ironi yang
lucu, atau mungkin lebih tepatnya tragis. Sepanjang langkah kaki
kami meninggalkan ruangan, ia tak henti-hentinya mengomel,
mengkritisi bobroknya kinerja institusi yang seharusnya
mengayomi itu.
Untuk mendinginkan kepala yang mendidih, begitu keluar
dari gedung, Farras mengajakku melipir ke Indomaret terdekat. Ia
memesankan segelas matcha latte untukku dan ice coffee untuk
dirinya sendiri. Akhirnya, di sanalah kami: duduk mengemper di
emperan Indomaret Polda Metro Jaya, membiarkan dinginnya
lantai semen menyerap emosinya, sementara aku mendengarkan
setiap keluh kesah yang tumpah dari bibirnya.
Perjalanan pulang malam itu diwarnai oleh riuh jalanan dan
usaha-usahaku untuk menenangkan hatinya yang patah. Farras
berencana menghubungi seorang temannya yang berprofesi
sebagai polisi untuk meminta bantuan jalur pribadi, meski di
sudut hatinya ia tahu, pertemanan sering kali dihargai dengan
materi di dunia dewasa ini. Ia juga bercerita, pihak berwajib tadi
107

