Page 112 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 112

pencakar  langit  yang  berkilau,  melainkan  sisi  lain  Jakarta  yang

          lebih kumuh dan padat. Aku hanya bisa menerka-nerka, kejutan

          tak terduga apalagi yang akan dia suguhkan hari ini.
               Di atas motor, aku mencoba memecah keheningan.

          "Beb, mana temanmu yang bisa bantu urus SIM?", tanyaku.
           "Ada. Lagian bikin SIM buat apa sih?"  tanyanya balik.

          "Ya biar bisa bebas main kemana saja."

          "Kan bisa sama aku kalau mau main,"   sahutnya pelan namun tegas.
               Kalimat  itu,  meski  sederhana,  sanggup  membuat  hatiku

          menghangat. Aku adalah tipe perempuan yang anehnya merasa

          dicintai  saat  "dikekang"  atau  diposesifkan.  Bagiku,  itu  adalah
          validasi rasa sayangnya dan Farras adalah tipe lelaki yang senang

          merasa dibutuhkan. Berkali-kali dia memintaku membuang "ego

          jombloku".  Dia ingin dalam setiap langkah dan kegiatanku, selalu
          ada namanya yang menyertai.

               Kami terus membelah jalanan. Dia menawariku makan mie

          ayam,  tapi  kutolak.  Aku  heran,  kenapa  dia  selalu  punya  obsesi
          dengan warung-warung pinggir jalan? Namun protesku biasanya

          hanya  berakhir  seperti  angin  lalu.  Hingga  akhirnya,  motornya

          melambat saat melewati Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Dia
          berhenti tepat di depan sebuah kedai yang aroma mie nyemek-nya

          menguar kuat.


                                                                        112
   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117