Page 114 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 114
"Nanti aku perkenalkan diri sebagai pengangguran aja. Terus aku
ceritain kalau kita kenalnya dari dating apps ," katanya sambil
tertawa. Aku memberinya tatapan tajam yang menusuk, namun
dia justru semakin menjadi-jadi menggodaku.
Mie nyemek itu datang. Asapnya mengepul, aromanya begitu
menggoda iman, namun harga diriku terlalu tinggi untuk meminta
icip. Aku tetap pada pendirianku saat dia bertanya lagi.
Untungnya, camilan pesanannya tiba tak lama kemudian. Di
warung sederhana itu, di tengah bising kendaraan Manggarai,
kami tenggelam dalam obrolan penuh tawa dan ejekan. Rasa
kesalku perlahan luruh, berganti dengan rasa sayang yang makin
memuncak.
Saat perjalanan pulang, entah angin apa yang merasuki, aku
mendadak iseng.
"Beb, aku mau pulang ke Cirebon minggu depan."
"Ngapain? Kan katanya Desember. Kalau minggu depan, aku
enggak bisa nemenin” suaranya terdengar mulai gelisah.
"Aku mau resign, Beb. Aku udah ajukan ke HRD," sahutku datar,
mencoba menahan tawa.
"Apaan sih? Jangan bercanda!" Farras mulai panik.
Aku terus membumbui dramaku, mengatakan bahwa aku resign
karena akan dijodohkan dengan seorang juragan beras. Siapa
114

