Page 118 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 118

menghiasinya  dengan  selada  hijau  segar  agar  tampak  cantik  di

          mata.  Tak  lupa,  kusisipkan  sekaleng  Nescafe  dingin  sebagai

          amunisi agar ia tetap bugar di kantor.
               Setelah semuanya rapi, aku segera bersiap ke kantor sembari

          menanti  deru  motor  yang  kukenal.  Begitu  ponselku  berdering,
          tanpa melihat layar lagi, aku langsung berlari turun. Benar saja,

          Farras  sudah  di  sana.  Aku  menyapanya,  mencium  tangannya

          dengan takzim, lalu menyerahkan kotak bekal yang cukup berat
          itu. "Gede banget, Beb!"  serunya sebelum berpamitan pergi.

               Penantianku  berlanjut  hingga  tengah  hari.  Tepat  pukul

          11.00,  sebuah  notifikasi  masuk  yang  seketika  membuat  hatiku
          hangat. "Enak banget, Beb."

          Hanya tiga kata, namun rasanya semua peluh dan protes teman-

          temanku tadi pagi terbayar lunas. Ia bercerita bahwa makanannya
          tandas  tak  bersisa,  meski  ia  sempat  mengeluh  porsinya  terlalu

          masif untuk satu orang.

          “Padahal masakin kangkong sama tempe goreng aja udah cukup
          beb” , tambahnya.

               Ia  juga  mengomentari  Ayam  Kalasan  buatanku;  katanya

          enak,  meski  ia  lebih  suka  jika  teksturnya  sedikit  lebih  kering.
          Kritik kecil itu tidak membuatku ciut, justru menjadi bahan bakar

          baru yang menyulut semangatku untuk kembali meramu rasa di


                                                                        118
   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123