Page 115 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 115

sangka, keisenganku dianggapnya sebagai kebenaran mutlak. Dia

          benar-benar  gelisah  di  atas  motor,  gelagatnya  menunjukkan

          ketakutan  yang  nyata.  Polos  sekali  lelakiku  ini.  Saat  kulihat
          matanya mulai berkaca-kaca, aku tak tega lagi.


          "Bercanda,  Beb.  Cuma  bercanda," bisikku  sambil  memeluk  erat
          pinggangnya  dari  belakang,  mencoba  menenangkan  badai  yang

          kubuat sendiri.

               Jalanan menuju kost terasa begitu singkat. Rasanya aku ingin
          waktu membeku agar tak perlu berpisah dengannya. Sesampainya

          di depan gerbang, aku mencium tangannya, sebuah gestur pamit

          yang penuh takzim. Aku segera masuk ke dalam, meninggalkan dia
          yang mungkin masih sisa-sisa kaget karena candaanku tadi.

               Terima  kasih  untuk  hari  ini,  Sayang.  Untuk  Jakarta  yang

          kumuh, untuk coffee beer, dan untuk degup jantung yang selalu
          kamu miliki.
















                                                                        115
   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120