Page 126 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 126

di beberapa bagian, celana jogger   hitam andalannya, dan sandal

          gunung yang sudah menjadi identitasnya. Saat aku masuk dengan

          semangat yang meluap, ia justru menyambutku dengan ekspresi
          masam  yang  khas—wajah  yang  selalu  sengaja  ia  pasang  hanya

          untuk memancing emosiku. Ia memang paling juara dalam urusan
          menyulut  rasa  kesal,  tapi  entah  mengapa,  itu  justru  menjadi

          bumbu yang membuat interaksi kami tak pernah hambar.

          "Mau ngga? Enah tau,"  kataku sambil menyodorkan sepotong roti
          dari dua buah yang kubawa.

               Sambil mengunyah, ia mulai mengomel. Ada saja hal yang

          mengusik  pikirannya,  mulai  dari  jalanan  hingga  hal-hal  remeh
          lainnya. Telingaku sudah terlalu akrab dengan simfoni omelannya,

          jadi  aku  hanya  mendengarkannya  sambil  sesekali  melempar

          candaan.
          "Aku mau balik ke Cirebon ah” ,  godaku dengan nada manja.

          Ia terdiam sejenak, wajahnya berubah dingin. "Apa sih, Gin? Kalo

          kamu beneran ke Cirebon, ya udah kita nggak bisa sama-sama lagi.
          Aku  nggak  bisa  LDR” ,  jawaban  yang  begitu  lugas  itu

          menghantamku.


          "Ya  udah," sahutku  singkat,  berpura-pura  acuh  padahal  hatiku
          mencelos.  Bagaimana  mungkin  ia  mengatakannya  seolah

          perpisahan  adalah  perkara  yang  mudah?  Keheningan  sempat


                                                                        126
   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131