Page 129 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 129
Setelah melewati perjalanan panjang, kami sampai di
gerbang kompleknya. Farras menggandeng tanganku dengan erat,
membawaku melihat bangunan yang sedang dalam tahap
konstruksi. Wajahnya berbinar bangga. Ia bercerita betapa ia
harus bersabar selama satu tahun untuk mendapatkan unit
bergaya Eropa ini. Baginya, ini adalah pencapaian tertinggi.
Saat menuju kantor development , ia memintaku menunggu
di luar. Meski merasa agak aneh, aku tak ambil pusing. Aku melipir
ke Indomaret terdekat untuk membeli beberapa camilan dan dua
kaleng Nescafe. Tak lama, ia menyusul dan mengajakku masuk.
"Kok beli kopinya dua?" tanyanya saat melihat belanjaanku.
"Buatku satu, mumpung lagi promo."
"Lho, kan kamu nggak bisa minum kopi?" tanyanya heran, namun
pembicaraan terputus saat seorang wanita marketing
menghampiri kami.
Di sana, aku hanya diam, memerhatikan Farras dari samping.
Melihatnya berdiskusi, aku melihat sisi lain darinya: sosok yang
begitu dewasa, berwibawa, dan penuh perhitungan. Ada rasa
bangga yang menyelinap, betapa beruntungnya aku memiliki
lelaki ini.
Perjalanan pulang disambut oleh langit Jakarta yang tiba-
tiba meluruhkan hujan. Di tengah rintik yang membasahi kaca
129

