Page 128 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 128
Tak lama, pemandangan berubah drastis saat kami
memasuki area Harapan Indah. Jalanan yang tadinya kumuh
berganti menjadi kawasan hunian yang tertata rapi dan asri.
"Ini jalanan komplek perumahan kita nanti, Beb. Bagus, kan?"
Kalimat "rumah kita" itu meluncur begitu saja dari bibirnya,
membuat dadaku berdesir hebat. Ada rasa haru yang mendesak di
tenggorokan. Seolah dalam kata itu, ia telah menyusun masa
depan di mana aku ada di dalamnya, bersanding di pelaminan dan
menua di sana. Aku hanya mampu mengangguk pelan, lidahku
kelu untuk sekadar membalas.
Farras bercerita dengan antusias mengapa ia memilih
tempat ini. Ia mendambakan ketenangan hijau yang jauh dari
hiruk-pikuk kota. Ia membayangkan danau dan taman bermain
yang nantinya akan menjadi bagian dari hunian elit ini. Namun,
semakin dalam kami masuk, jalanan megah itu berubah menjadi
rimbun pepohonan layaknya area pegunungan. Kanan dan kiri
hanya ada tanaman. Ia mencintai kesunyian ini, sementara aku?
Aku adalah pemuja keramaian Jakarta. Aku sempat
membayangkan, jika nanti aku benar-benar tinggal di sini setelah
menikah, betapa lelahnya aku harus menempuh jarak sejauh ini
menuju tempat kerja. Rumah ini terasa seperti berada di "ujung
dunia".
128

