Page 139 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 139
menghantamku telak. Di balik topeng perempuan ceria tanpa
beban yang kukenakan setiap hari di hadapan dunia, ada jiwa yang
sedang tertatih menjalani depresi. Aku merindukan diriku yang
dulu, sebelum semua kepura-puraan ini menjadi identitas.
Setelah lagu itu usai, ia memutar versi kedua. "Bagusan yang
mana, Beb?" tanyanya pelan, mencoba mengalihkan suasana
meski matanya masih menyiratkan kekhawatiran.
"Yang pertama, aku suka yang pertama," jawabku serak.
Ia terus bertanya mengapa aku menangis sehebat itu, dan
pertanyaan itu justru membuat air mataku mengalir kian deras.
Farras segera mencuci tangannya, menghampiriku, dan mengelus
punggungku dengan saksama, mencoba menyalurkan ketenangan
yang ia punya.
Kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan menuju
parkiran motor, ia masih berusaha menghiburku.
"Mau es krim?" Aku menggeleng. "Mau jajan yang lain?" Aku
kembali menggeleng dalam diam.
Sepanjang perjalanan pulang, motor melaju membelah sunyi. Ia
menggenggam tanganku erat, seolah takut aku akan hancur jika ia
melepasnya, dan aku membalasnya dengan memeluk
punggungnya sekuat tenaga. Rasanya, hanya di balik punggung itu
aku boleh menjadi rapuh.
139

