Page 143 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 143
"Popay mana?" tanyanya lagi, penuh selidik. Nada defensifnya
terbaca jelas di antara baris teks. Ia selalu saja dilingkupi rasa
cemas yang berlebih, seolah aku memiliki celah untuk berpaling,
padahal ia tak pernah tahu seberapa dalam aku telah jatuh dan
menjadi seorang 'bucin' yang seutuhnya hanya untuk dia.
Sebelum jemariku sempat menyusun kalimat balasan,
ketidaksabarannya kembali memuncak. Pesan-pesan baru darinya
terus merangsek masuk tanpa ampun.
"Balesss ya Allah," serunya, frustrasi oleh jeda yang kuciptakan.
Aku menghela napas, lalu mengetik penjelasan bahwa paket
dataku telah mencapai batas akhir dan wifi kost sedang
mengalami gangguan parah. Aku memberi tahunya bahwa
kemungkinan besar aku akan menghilang dari radar komunikasi.
Begitu menginjakkan kaki di kamar kost, hal pertama yang
kulakukan adalah mengisi ulang kuota internetku. Benar saja,
begitu koneksi kembali terhubung, rentetan pesan darinya
langsung menyerbu layar ponsel. Ia memberi tahu bahwa ia
sedang mengantre untuk mengambil obat. Membaca pesan itu,
aku hanya bisa tersenyum simpul. Farras memang tipikal pria
yang sangat peka terhadap sinyal-sinyal ringkih di tubuhnya, sakit
sedikit saja, langkah kakinya akan langsung mengarah ke klinik
atau dokter.
143

