Page 142 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 142
pekerjaan, ia menjelma menjadi sesosok anak kecil yang begitu
haus perhatian. Ia akan menghujaniku dengan panggilan telepon
bertubi-tubi dan rentetan pesan singkat, sebuah spam chat yang
tak kenal waktu, mengabaikan fakta bahwa aku sendiri sedang
bergelut dengan kesibukan kerja. Ia menuntut untuk selalu
diladeni, bermanja tanpa jeda. Namun anehnya, pagi ini ia justru
tenggelam dalam lelap yang panjang. Sekitar setengah jam
kemudian, tepat jam setengah sebelas siang, ia pamit untuk
menghadiri meeting online . Aku memilih tak membalas,
membiarkannya fokus pada dunianya sejenak.
Sore harinya, setelah penat seharian membayangi, aku
memutuskan untuk mencari hiburan lewat sepiring kenyamanan.
Aku mengiriminya sebuah foto, potret kedai nasi goreng
magelangan langgananan kami. Aku hanya ingin berbagi sepotong
aktivitasku, namun respons yang kuterima justru seperti air bah.
Ia langsung menghujaniku dengan interogasi yang bertubi-tubi.
"Sama siapa?" tanyanya. Sebuah pertanyaan retoris yang
sebenarnya tak perlu kuperjelas, karena ia tahu betul aku biasanya
pergi bersama Popay.
"Sama temen kantor," jawabku asal, sekadar ingin melihat
reaksinya.
142

