Page 146 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 146

pagi bersama tawa kecil Azell yang menggema di sudut rumah.

          Kami  bahkan  sudah  melangkah  jauh  hingga  mendiskusikan

          metode pengasuhan. Aku ingat betul bagaimana mataku berbinar
          saat  memujinya  yang  begitu  fasih  berbahasa  Inggris.  Aku  ingin

          anak kami kelak tumbuh dengan bahasa tersebut sebagai bahasa
          utamanya.

          "Kamu yang ajarin bahasa inggris ya, ilmu lainnya biar aku yang


          urus," ujarku penuh harap kala itu, membagi peran masa depan
          kami.


          "Siap  beb," jawabnya  dengan  semangat  yang  berkobar,  sebuah
          janji yang terpatri hangat di ingatan.
               Realita malam ini kembali menarikku dari lamunan. Sekitar

          pukul  tujuh  malam,  Farras  mengabarkan  bahwa  namanya

          akhirnya dipanggil oleh bagian farmasi. Ia bergegas mengambil
          penawar  demamnya.  Panggilan  telepon  darinya  sempat  masuk,

          namun hanya bertahan selama dua menit yang singkat. Suaranya

          terdengar  terburu-buru,  mengatakan  ada  sesuatu  yang  'urgent'
          sebelum akhirnya sambungan terputus dan ia lenyap tanpa kabar

          hingga jarum jam merangkak ke angka 20.19 WIB.

               Rasa  cemas  yang  sempat  kuusir  kini  kembali  mengetuk
          pintu  hati.  Aku  mengiriminya  pesan  demi  pesan,  menanyakan

          keberadaannya, mengemis kepastian di tengah malam yang kian


                                                                        146
   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151