Page 144 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 144
Sifatnya itu bak bumi dan langit denganku. Tubuhku ini
sudah terlalu akrab dengan rasa sakit, tumbuh bersama berbagai
keluhan sejak lama hingga aku berada di titik jenuh. Selama
ragaku masih mampu menopang diri dan melangkah, aku akan
sekuat tenaga menghindari meja dokter. Aku merasa iba pada
organ-organ di dalam tubuhku jika harus terus-menerus
digempur oleh zat kimia dari obat-obatan yang sudah kukonsumsi
sejak masa belia.
Tak lama, sebuah foto kembali masuk. Siluet koridor rumah
sakit yang dingin dan steril.
"Lagi antri ambil obat”, tulisnya di bawah gambar tersebut.
"Lagi nganter anak lo ras?" sahutku, melontarkan candaan asal
yang spontan lewat jemariku.
"Ngga lah," balasnya cepat.
"Terus Azell siapa?" tanyaku, memancingnya lebih jauh.
Jawaban yang ia ketik berikutnya sukses membuat detak
jantungku berhenti sedetik, sebelum akhirnya mengembang
menjadi senyuman paling manis malam itu.
"Azell, anak kita. I think”, jawabnya yang kemudian di susul dengan
sticker kucing favoritnya.
144

