Page 182 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 182
Rasa gusar perlahan merayap, mencuri ketenanganku.
Bagaimana bisa dia sama sekali tidak mencariku di saat aku tak
memberinya kabar seharian? Didorong oleh rasa sesak yang tak
tertahankan, aku memutuskan untuk meneleponnya lebih dulu,
mengabarkan bahwa aku sedang berada di Central Park. Namun,
tanggapannya terasa hambar.
"Sama siapa?" tanyanya singkat, dingin.
Tanpa menunggu kelanjutan kalimatnya, aku langsung
memutuskan sambungan telepon dengan dada yang bergemuruh.
Sekitar pukul dua siang, aku dan Popay memutuskan untuk
menyudahi pelarian kami di mall dan bersiap pulang. Namun,
Popay tiba-tiba melontarkan keinginan untuk mampir ke Monas.
"Mau ngapain?" tanyaku, agak heran.
"Sekalian, mau video call Ibu," jawabnya lembut.
Maka di sinilah kami kemudian, duduk di bangku pelataran taman
Monas. Perut kami mulai keroncongan dan kami mencoba
mengedarkan pandangan mencari penjual camilan. Sayang, nihil.
Langit yang mendadak berubah mendung dan pekat rupanya
membuat para pedagang enggan menggelar lapak. Popay
kemudian memintaku mengabadikan dirinya dengan latar
belakang Monas yang megah. Tepat setelah beberapa jepretan,
rintik hujan turun membasahi bumi tanpa permisi. Kami berlari
182

