Page 183 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 183
tunggang-langgang keluar dari area Monas, bergegas
menyelamatkan diri menuju halte terdekat.
Kami menaiki bus koridor 5C yang, seperti biasa pada jam-
jam seperti ini, penuh sesak hingga nyaris tak ada ruang untuk
bernapas. Di dalam bus yang berimpitan itu, batinku mulai
merutuk pilu. Andai saja aku memiliki kekasih yang bisa
diandalkan, pria yang sigap dan rela menjemputku di kala hujan
seperti ini, gerutuku dalam hati, menelan rasa iri yang bergegas
timbul.
Sepanjang jalan, aku terpaksa berdiri dengan kaki yang
mulai mati rasa. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Aku
mencoba melapangkan dada, menghibur diri sendiri bahwa dalam
dua halte lagi kami akan tiba di Halte BKN. Namun, takdir rupanya
sedang senang bercanda. Boom! Lamunanku pecah saat
menyadari kami lagi-lagi terlewat. Bus sudah berlabuh di
pemberhentian terakhir: PGC.
Detik itu juga, badanku bergetar hebat. Rasa takut, lapar
yang melilit, dan kelelahan yang menumpuk seolah tumpah
menjadi satu. Kepanikan semakin memuncak saat aku mendapati
saldo kartu Flazz milik Popay telah habis, dan sialnya, kartu
tersebut merupakan generasi lama yang belum mendukung fitur
top-up lewat NFC ponsel. Benar-benar kacau. Pikiranku buntu.
183

