Page 179 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 179

Menjelang  larut,  setelah  badai  di  hatiku  sedikit  reda,  aku

          masuk  ke  kamar.  Inilah  kekuranganku  yang  sekaligus  menjadi

          kutukanku. Aku mudah terbakar emosi, namun begitu mudah pula
          untuk  memaafkan.  Di  atas  ranjang,  aku  merajut  pembenaran

          untuknya.  Aku  menenangkan  diriku  dengan  pikiran  bahwa
          keberadaannya saja sudah menjadi kado, apalagi ia berjanji akan

          mengantarku pulang ke Cirebon saat  Natal  nanti. Bukankah itu

          hadiah yang jauh lebih mahal dari sekadar barang?
               Dengan hati yang melunak, aku meneleponnya. Ia langsung

          mengangkatnya  melalui  panggilan  video.  Di  layar,  kulihat  ia

          sedang  santai  menyesap  sebatang  rokok.  Kepulan  asap
          membingkai pahat wajahnya yang menawan, pesona yang entah

          mengapa  selalu  berhasil  menjadi  penawar  lukaku.  Seketika,

          seluruh  amarahku  menguap  tak  bersisa.  Suasana  yang  tadinya
          beku kembali mencair, dan kami kembali bertukar tawa, seolah

          sayatan luka yang ia torehkan beberapa jam lalu tak pernah benar-

          benar ada.











                                                                        179
   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184