Page 184 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 184

Di  sela-sela  waktu  istirahat  untuk  menunaikan  ibadah

          shalat,  aku  mencoba  meruntuhkan  egoku  dan  menghubungi

          Farras kembali. Di titik terendah ini, aku berharap dia bisa menjadi
          pahlawan yang menjemputku. Namun, sambutan di seberang sana

          justru menghantam ulu hatiku.
          "Kenapa? Ini magrib loh,"  jawabnya dengan nada ketus.

          Padahal,  sepatah  kata  pun  belum  sempat  terucap  dari  bibirku

          untuk  menjelaskan  bahwa  aku  sedang  tersesat  dan  ketakutan.
          Padahal, jika dipikir logis, aku tidak perlu sepanik ini karena ada

          Popay  di  sisiku,  dan  kami  bisa  saja  meminta  bantuan  Apik,

          adiknya,  untuk  menjemput.  Namun,  sikap  Farras-lah  yang
          menghancurkan pertahananku.

               Saat Farras mematikan telepon secara sepihak, ada sesuatu

          yang  retak  di  dalam  dadaku.  Rasa  sakitnya  begitu  nyata.
          Mengingat kembali janji manisnya yang mengatakan  “kalau ada

          apa-apa kabarin ya”  kini terasa seperti lelucon paling hambar dan

          omong  kosong  belaka.  Dia  benar-benar  sosok  yang  tidak  bisa
          diharapkan keberadaannya di masa-masa sulitku.

               Beruntung,     secercah    harapan    muncul     saat   kami

          memaksakan  diri  masuk  ke  area  Mall  PGC.  Bak  mendapat
          embusan angin segar di tengah gurun, kami menemukan mesin

          ATM yang letaknya berdekatan dengan halte untuk mengisi ulang


                                                                        184
   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189