Page 189 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 189

Di  sepanjang  aspal  yang  kami  lalui,  ia  tak  henti  bercerita

          dengan kesal tentang drama di kantornya. Dua hari lalu, langit-

          langit kantornya ambrol dihantam debit air yang luar biasa besar.
          Banjir melanda, dan ia harus turun tangan mendorong meja-meja

          berat. Ia mengeluh punggungnya sakit, sosok "tuan muda" yang
          memang sedikit manja dan cepat merasa lelah. Ia juga bercerita

          tentang teguran atasannya karena ia membuat keputusan sepihak

          memulangkan bawahan saat keadaan kacau.
          "Aku mau nangis kalau ingat itu. Aku cuma nggak mau ada korban

          karena  ada  potensi  orang  lain  bisa  tersetrum  melihat  kabel

          berserakan  dan  kantor  yang  penuh  dengan  air,  tapi  malah
          disalahkan. Akhirnya aku pilih cuti, nggak peduli apa yang terjadi

          di sana,"  ucapnya dengan nada terluka.

          Aku hanya bisa mendengarkan, mengelus lengannya tanpa ingin
          mendebat dan mecoba menenangkannya, meski dalam hati aku

          setuju bahwa komunikasi dengan atasan itu penting. Aku memilih

          menjadi pendengar yang baik untuk emosinya yang sedang rapuh.
          Sebuah notifikasi masuk.

          "Jadi pulang?"  , tanya mamahku.

          "Jadi, Mah. Sekitar jam 3 sampai dan Farras ikut”, jawabku mantap.
               Baru satu jam perjalanan, Farras membelokkan kemudi ke

          Rest Area  Subang. Dia selalu mengeluh tidak mengira bahwa jarak


                                                                        189
   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194