Page 177 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 177

tentangku, bahkan sampai melacak alamat rumahku di Cirebon.

          Aku hanya bisa mematung, membisu menelan perih.

               Tanpa rasa bersalah, ia memintaku naik ke motornya, lalu
          kami membelah dinginnya angin malam menyusuri BKT. Ya, BKT

          lagi.

          "Mau  makan  apa?" tanyanya  datar.  Aku  menggeleng,  sisa-sisa
          suasana hatiku telah hancur lebur. Ekspektasiku tentang perayaan

          romantis  bersama  sosok  terkasih  menguap  bersama  asap
          kendaraan.  Sementara  di  kost,  teman-temanku  pasti  sedang

          menerka-nerka kejutan indah apa yang sedang kudapatkan.

               Motor terus melaju tanpa arah yang jelas. Ia menepi untuk
          membeli telur gulung dan kue balok.

          "Kamu pernah makan telor gulung?"     tanyanya memecah sepi.

          "Ngga pernah,"  jawabku asal.
          Ia menyodorkan makanan itu, membujukku untuk mencicipinya.

          "Ak udah beli, cobain enak. Satu aja" .

          "Kan aku bilang ngga mau. Aku juga ngga nyuruh beli," jawabku
          ketus, tak lagi mampu menahan rasa sebal.

               Bukannya  merengkuh  dan  menenangkanku,  egonya  justru

          ikut  tersulut.  Ia  memutar  tuas  gas,  memacu  motor  dengan
          kecepatan tinggi yang memekakkan telinga.





                                                                        177
   172   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182