Page 262 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 262
Duarr! Rasanya seperti ada petir di siang bolong. Amarahku
tersulut seketika. Bagaimana mungkin dia mengajakku menerjang
ganasnya matahari Jakarta yang mulai meninggi di atas kepala
hanya dengan roda dua? Jarak dari rumahnya saja butuh waktu 40
menit, yang artinya dia baru akan sampai di kostku sekitar jam 11
siang, tepat saat sang surya sedang gagah-gagahnya membakar
aspal.
"Sore aja, mager panas," balasku ketus.
Tak lama, ponselku berdering. Suara Farras di seberang sana
mencoba meyakinkanku bahwa di luar sedang mendung dan
udara tidak sesengit yang kubayangkan. Tapi aku bergeming. Aku
memang tak akrab dengan panas, apalagi harus menembus
cakrawala siang hari tanpa perlindungan AC mobil yang
sejujurnya menjadi ekspektasiku sejak awal.
Perdebatan kecil pun pecah. Saat aku bersikeras ingin pergi
sore hari, dia mulai mencecar dengan pilihan jam yang
membuatku semakin jengkel. Akhirnya, karena sudah terlanjur
kesal, aku memutuskan sepihak.
"Nggak usah jadi," kataku.
Bahkan, dalam luapan emosi, aku berbohong bahwa aku akan
pergi ke Jakarta Barat bersama temanku. Mendengar itu, nada
suaranya berubah geram. Dia tak terima. Katanya, dia sudah
262

