Page 81 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 81
dia klaim seratus persen original. Aku hanya menanggapinya
dengan gumaman malas tanpa minat.
Kendaraan akhirnya membelah kawasan Aloha, PIK 2. Farras
langsung mengarahkan langkahku menuju sebuah tempat makan.
Kami memesan dua porsi ayam goreng, kentang, secangkir kopi,
dan air mineral. Kami memilih lantai dua, tempat terbaik untuk
merasakan angin laut yang berembus konstan, menyajikan
pemandangan pesisir Jakarta yang bergelombang tenang di bawah
langit sore.
Di bawah langit Aloha itulah, suasana santai kami perlahan
bergeser menjadi atmosfer yang pekat dan serius. Farras
menatapku dalam, memulai sebuah konfrontasi verbal yang tak
kuduga. Dia menanyakan mengapa sikapku terasa begitu defensif,
tertutup, dan seolah membangun benteng tinggi. Dia penasaran
mengapa aku sama sekali tidak pernah melontarkan pertanyaan
pribadi tentang kehidupannya. Dari caranya bicara, aku tahu dia
sedang menuntut sebuah kejelasan arah hubungan. Namun, egoku
berontak di dalam hati. Bagaimana aku bisa terbuka, jika dia
sendiri tidak pernah menyatakan perasaannya secara verbal?
Ditambah lagi, luka kecil dari ucapannya tadi pagi yang dengan
entengnya menyebutku 'hanya sebagai teman' masih membekas
nyata.
81

