Page 80 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 80

Dia  mendongak,  menatapku  lurus,  lalu  berceletuk  santai,

          "Tuh, makanya buruan nikah."

               Aku tertegun. Ingin rasanya aku melempar buku genetika di
          tanganku ke  wajahnya. Bisa-bisanya pria ini menyuruhku cepat

          menikah,  sementara  dia  sendiri  bertingkah  seolah  mengunci
          hatiku, tidak memberiku  celah sedikit  pun untuk dekat dengan

          pria lain.

          "Udah yuk, pulang,"  ajak Farras kemudian, menutup bukunya.
          "Ih, masih seru"  tolakku berkeras. Lucu sekali memikirkan pria ini,

          dia yang paling menggebu-gebu mengajakku ke perpustakaan ini,

          tapi  dia  juga  yang  paling  pertama  merengek  minta  pulang.
          Akhirnya, jarum jam yang menunjuk pukul 13.30 WIB memaksa

          kami  menyudahi  petualangan  literasi  ini.  Sebelum  melanjutkan

          perjalanan panjang ke PIK, kami menyempatkan diri mampir ke
          musholla untuk menunaikan sholat zuhur.

               Rute berikutnya adalah menuju utara Jakarta, Pantai Indah

          Kapuk.  Sepanjang  jalan,  telingaku  kenyang  mendengar
          keluhannya  yang  menyebut  tempat  itu  terlampau  jauh.  Dia

          mengaku  belum  pernah  menginjakkan  kaki  di  area  PIK

          sebelumnya. Payah sekali, batinku mengejek. Tak hanya mengeluh,
          sepanjang tol dia juga sibuk memamerkan topi Nike barunya yang





                                                                          80
   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84   85