Page 42 - Panduan Peningkatan Kebermaknaan Hidup dalam Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Menggunakan Teknik Modeling Setting Kelompok
P. 42
MATERI 2
REMAJA DAN PENCEGAHAN
PELANGGARAN LALU LINTAS
A. Pengertian Pelanggaran Lalu Lintas
Istilah pelanggaran berasal
dari dasar kata “langgar”.
Pelanggaran (overtreding;
violation; contravention) secara
terminologi berarti perbuatan yang
dilarang dan diancam pidana oleh
undang-undang pidana dan
ditentukan lebih ringan pidananya Gambar.9
daripada kejahatan (Hamzah,
2009).
Selama ini belum banyak
disadari bahwa pelanggaranlalu lintas merupakan salah satu jenis tindak
pidana, suatu pelanggaran dikatakan termasuk tindak pidana bila
pelanggaran itu memenuhi semua unsur tindak pidana. Unsur-unsur tindak
pidana tersebut adalah perbuatan manusia yang mampu bertanggung
jawab, perbuatan itu melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan, dan
diancam dengan pidana (Ardiyasa, 2003).
Rusli Eff endy dan Poppy Andi Lolo menyatakan bahwa
pelanggaran adalah delik undang-undang (wetschending) yaitu
perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui setelah
ada undang-undang yang menentukannya (Rusly Effendi & Lolo, 1989).
Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu pelanggaran aturan lalu lintas
yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan berlalu-lintas serta
dapat mengancam keselamatan pengguna jalan lain juga mengancam
keselamatan para remaja yang melalukan pelanggaran itu sendiri (Surya,
2017a).
Kata “lalu lintas” dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah
berjalan hilir mudik, berhubungan dengan perjalanan (kendaraan dsb).
Sedangkan pengertian lalu lintas dalam 1 angka 2 UU lalu lintas yaitu gerak
kendaraan dan orang diruang lalu lintas jalan (Ardiyasa, 2003). pengertian
lalu lintas dalam brosur penyuluhan hukum VIII tentang pelaksanaan lalu
lintas yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Pembinaan Badan Peradilan
Umum Depertemen Kehakiman edisi 1 tahun 1993 yaitu “pelanggaran lalu
Page 40

