Page 101 - Microsoft Word - AA. Navis - Rubuhnya Surau Kami _Kumpulan Cerpen_
P. 101
Si Dali tidak bisa menerima dalil itu, apalagi dengan mengaitkannya dengan Nabi yang
junjungannya. Dia memang tidak tahu benar sejarah peperangan Nabi. Namun
menurut logikanya, Nabi tidak akan membenarkan pasukannya merampok dan
memperkosa musuh-musuh yang ditaklukkan. Oleh karena peperangan Nabi
mengandung misi yang amat mulia, misi kesucian agama. Bagaimana musuh bisa
ditaklukkan dan menerima Islam apabila pasukan Nabi sama ganas dengan tentera
jahiliah. Lalu katanya dengan emosi tak terkendali: "Zaman itu dengan zaman sekarang
beda. Perang sekarang terikat dengan konvensi internasional."
"Naif betul kau Dali. Justru perang sekarang yang jauh lebih kejam dari masa dulu.
Meski bom atom dilarang, namun akibat bom napalm tak kurang ganasnya ketika
ditembakkan ke desa. Itu yang berlangsung sekarang, Dali." kata Ancok seraya
menepuk-nepuk bahu Si Dali tanpa peduli yang Si Dali tidak suka diperlakukan seperti
anak sekolah bila ditepuk bahunya oleh guru.
"Bagaimana perasaanmu apabila isterimu atau anakmu diperkosa musuhmu?" tanya Si
Dali kemudian.
Ancok tidak segera menjawab. Sesaat air mukanya berobah. Jari-jemarinya kentara
gementaran. Dengan nada suara yang rendah, Ancok berkata: "Itulah risiko perang."
"Berapa kali lagi kau akan mengungsi apabila perang ini masih akan berlanjut." tanya Si
Dali lagi pada Juki.
"Kau mau tahu juga berapa kali aku akan kawin lagi, bukan? Itu tergantung." jawab
Juki seenaknya.
Lama kemudian barulah Si Dali bertanya lagi. "Bagaimana kau mengemasi isteri-
isterimu nanti bila perang berakhir?"
"Kau pikir hidup perempuan-perempuan desa itu bergantung pada suaminya? Mereka
perempuan yang mandiri. Mereka punya rumah, punya tanah, punya ladang untuk
menjamin hidupnya."
"Tapi dimana letak moralnya?"
"Moralnya? Moralnya adalah pada kebanggaan orang desa dapat suami orang kota
seperti aku. Guru lagi."
"Yang aku tanya bukan mereka. Tapi waang sebagai guru." kata Si Dali dengan
menggunakan kata waang sebagai ganti kata "engkau" yang lebih kasar dalam bahasa
daerahnya.
"Biar guru, waktu perang moralnya beda."
"Tapi kamu tidak ikut perang. Cuma kawin melulu."
"Moral perang orang Minangkabau masa dulu menjadikan aduan kerbau daripada
mengadu manusia untuk berbunuhan."

