Page 48 - Linguistik Forensik
P. 48
metode padan ekstralingual adalah metode analisis dengan
menghubungbandingkan masalah bahasa dengan hal di luar bahasa,
seperti larat belakang sosial, geografis, budaya. Kedua metode di atas
memiliki teknik-teknik dasar berupa teknik hubung-banding
menyamakan, teknik hubung-banding membedakan, dan teknik hubung-
banding menyamakan hal pokok.
Ketiga teknik itu merupakan bagian dari kedua metode tersebut,
hanya saja bedanya, apabila dalam metode padan intralingual, unsur
bahasa yang dihubung-banding menyamakan, membedakan, atau
menyamakan hal pokok itu adalah unsur-unsur yang berupa satuan
kebahasaan, sedangkan dalam metode padan ekstralingual, unsur-unsur
yang dihubung-banding menyamakan, membedakan, atau menyamakan
hal pokok adalah unsur berupa satuan lingual/bahasa dengan hal di luar
bahasa (Mahsun, 2017 dan Sudaryanto, 2015). Selain itu, khusus untuk
metode padan intralingual memiliki teknik dasar lainnya, yaitu teknik
agih (Sudaryanto, 2015 menggolongkannya sebagai metode bukan
teknik), dengan teknik lanjutan berupa teknik: lesap, teknik ganti, teknik
perluas, teknik sisip, teknik balik, teknik ubah wujud. Lebih jauh ihwal
teknik-teknik lanjutan ini dapat dilihat dalam Mahsun (2017) dan
Sudaryanto (2015). Teknik-teknik ini digunakan untuk menciptakan data
baru yang dapat menjadi pembanding dan penjelas satuan bahasa yang
diduga mengandung unsur tindak kejahatan yang menjadi fokus analisis
linguistik forensik.
Untuk lebih jelas, ihwal penggunaan metode analisis lingusitik
forensik di atas disajikan berikut ini berdasar kategori aspek penegakan
hukum yang ingin dibuktikan.
40