Page 75 - Buku Pengayaan Kimia Elektronik Etnosains
P. 75

Filosofi




               nnnnnNama  mie  lethek  diambil  dari  kata  berbahasa  jawa
               lethek yang dalam terminologi orang jawa berarti kotor atau
               kusam  sesuai  dengan  tampilan  makanan  ini.  Penyebutan
               tersebut  karena  pada  umumnya  mie  berwarna  kuning  atau

               putih tetapi mie lethek memiliki warna keabu-abuan. Di balik
               rasanya  yang  nikmat,  mie  lethek  memiliki  sejarah  yang
               sangat panjang. Mie lethek diproduksi di beberapa daerah di
               kabupaten bantul yaitu Mie lethek cap busur panah di Dusun

               Nengahan, Mie Lethek Cap Garuda di Dusun Bendo, dan Mie
               Lethek Cap Dokar di Dusun Gunturgeni.
               nnnnnMenurut  informasi  dari  pemilik  pabrik  mie  lethek  di
               Dusun  Bendo,  Bapak  Feri,  pabrik  mie  lethek  didirikan  pada

               tahun  1940-an  oleh  kakeknya  yang  bernama  Umar  Yassir.
               Beliau  merupakan  orang  asli  Yaman  Timur  Tengah  yang
               merantau  ke  Indonesia  pada  tahun  1920-an.  Ketika  beliau
               sedang  menunaikan  ibadah  sholat  di  Kauman,  beliau

               bertemu  KH.  Bakir  Saleh.  Karena  KH.  Bakir  Saleh  dapat
               berbahasa  arab,  Mbah  Umar  dan  KH.  Bakir  Saleh  menjadi
               akrab dan menjadi sahabat yang lebih dari saudara. Saat itu
               Mbah  Umar  ingin  ke  daerah  yang  masih  belum  mengerti

               ajaran  agama  islam.  Mbah  Bakir,  sebagai  sahabat  Mbah
               Umar  saat  itu  mengarahkan  untuk  datang  ke  daerah  yang
               bernama  Wedi  Kengser  (sungai  yang  sudah  mengering).
               Selain berdakwah, Mbah Umar mempelajari daerah tersebut

               dan menyimpulkan bahwa warga cenderung membutuhkan
               makanan daripada uang. Kemudian Mbah Umar mendirikan
               rumah  seperti  pendapa  dengan  tiang-tiang  dari  kayu  jati
               untuk  dijadikan  rumah  sekaligus  pabrik  mie  lethek.  Mbah

               Umar  juga  menciptakan  alat  seperti  press  dan  silinder
               dengan tenaga sapi sebagai alat pembuat mie.







                                                    64
   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80