Page 13 - Antologi Esai 81
P. 13

Mengenal Lebih dalam Desa linggoasri dan sikap

                     toleransi Sebagai pemersatu Masyarakat

                                   Oleh: M. Miftakhuzaman


           Desa lingoasri merupakan salah satu desa yang terletak didaerah dataran

     tinggi,  Tepatnya  kecamatan  kajen  kabupaten  pekalongan.  Desa  linggoasri

     memiliki sekitar 352 kk dan jumlah penduduk kurang lebih 2.112 jiwa, Baik dari
     laki-laki 1.106 dan perempuan 1.006 yang sudah masuk dalam mapping proker

     didesa  linggoasri.  Secara  administrasi  desa  linggoasri  terbagi  menjadi  5

     dukuh 10 Rt, Kalo diurutkan dari yang paling bawah yaitu dukuh bojonglarang,

     dukuh  sadang,  dukuh  linggo,  dukuh  yosorejo  dan  terakhir  dukuh  rejosari.

     Menurut  data  yang  dikumpulkan  dari  sesepuh  desa  linggoasri  dan  website
     https://yopaora.blogspot.com/2018/02/jejak-leluhur-di-linggoasri-

     pekalongan.html

         "Diceritakan Ki Trunojoyo dan Ki Truno Wongso beliau adalah dua orang

     titisan prajurit dari Mataram yang berpangkat Punggawa setelah mendapat

     mandat dari Sultan Agung Mataram untuk ikut berperang ke Batavia.
                 Singkat  cerita  setelah  gagal  mengusir  belanda  dari  Batavia  banyak

     prajurit mataram yang tidak kembali ke kerajaan. Ki Tunojoyo dan Ki Truno

     Wongso  di  ikuti  teman-teman  sebayanya  yaitu  Ki  Cipluk  Taman  Sari  dan  Ki

     Rantan  Sari  serta  prajuritnya  menyingkir  dan  naik  ke  pegunungan  sebelah

     selatan  kota  Kajen  (sekarang)  pada  saat  itu  masih  berupa  hutan  belantara

     yang sangat lebat, tujuan mereka adalah menjauhi kejaran belanda dan juga
     untuk membuat tempat tinggal baru. Pada saat membuka hutan tersebut  Ki

     Trunojoyo  dan  Ki  Truno  Wongso  di  hadang  oleh  seekor  Harimau  maka

     terjadilah  pertarungan  yang  sengit  antara  Ki  TrunoWongso  dan  harimau

     tersebut.  dalam  pertaruangan  tersebut  Ki  Trunowongso  dapat  membunuh

     harimau,  setelah  harimau  tersebut  mati  maka  Ki  Trunowongso  diberi

     gelar/panggila oleh temen-temanya sebagai Ki Ageng Singo Menggolo.
            Kemudian Ki Trunojoyo beliau sangat giat dalam membuka hutan menjadi

     tempat  bermukim  diceritakan  pada  saat  membuka  hutan  tersebut  Ki

     Trunojoyo di kagetkan dengan ditemukannya sebuah situs atau benda yang

     berbentuk Lingga maka beliau berucap bahwa kelak di tempat ini akan saya

     beri nama Dusun Linggo dan hari berganti bulan bulan berganti tahun dusun
   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18