Page 32 - SD_Danau Laut Tador
P. 32

“Ayah, Ibu, mengapa Tador boleh marpangir kalau
            sudah  berumur  dua  belas  tahun?”  tanyanya  sambil

            menyantap ayam goreng.
                 Ayah  dan  ibu  berpandangan.  “Ya,  sudah  Yah,

            ceritakan saja. Tador ‘kan sudah besar,” kata ibu.
                 Ayah menghentikan suapan nasi ke mulutnya. Dia

            minum.  Lalu,  dia  mulai  bercerita.  Dikisahkannya,  dia
            memiliki dua abang. Artinya, uwak Tador. Sang uwak ini

            meninggal saat berusia delapan tahun. Dia meninggal
            di sungai ketika sedang marpangir. Uwak satunya lagi,

            meninggal juga saat marpangir. Saat itu, uwak yang ini
            masih berumur sepuluh tahun.

                 “Jadi,  mendiang  kakek  dan  nenek,  tidak  mau  hal
            sama  terjadi  pada  ayah.  Ayah  baru  boleh  marpangir

            ke sungai ketika usia dua belas tahun, sama sepertimu
            sekarang.  Alhamdulillah,  ayah  masih  hidup  sampai

            sekarang, ‘kan?” jelas ayah.
                 Tador mengangguk-angguk. Cerita itu masuk akal

            baginya. Setidaknya, beberapa kali dia memang pernah
            diajak  berziarah  ke makam  uwaknya  itu.  Dua  makam

            kecil di dekat makam kakek dan neneknya.
                 “Namun,  Tador,  yang  dilarang  oleh  kakek  dan

            nenek itu ‘kan marpangir ke sungai. Sebelum usia dua



                                        24
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37