Page 171 - A Man Called Ove
P. 171

A Man Called Ove

                “Aku juga,” gumam Ove dongkol.

                “Ove memukul badot!” teriak si gadis tiga tahun
            kegirangan.
                “Dasar pengadu,” kata Ove.

                Parvaneh menatap Ove, ternganga, bahkan tidak bisa
            memikirkan apa pun untuk dikatakan.
                “Lagi pula badutnya tidak pintar sulap,” gerutu si gadis
            tujuh tahun. “Kita bisa pulang sekarang?” tanyanya sambil
            berdiri.
                “Mengapa … tunggu dulu … badut … badut apa?”

                “Badot Beppo,” jelas si gadis tiga tahun sambil
            mengangguk bijak.
                “Dia hendak main sulap,” kata kakak perempuannya.
                “Sulap payah,” kata Ove.

                “Jadi, dia hendak membuat koin lima krona Ove
            menghilang,” imbuh si gadis tujuh tahun.
                “Lalu, dia mencoba mengembalikan koin lima krona yang
            lain!” sela Ove sambil menatap kedua petugas keamanan
            di dekatnya dengan tersinggung, seakan penjelasan ini
            seharusnya sudah cukup.
                “Ove MEMUKUL badot, Mum,” kikik si gadis tiga tahun,
            seakan ini hal terbaik yang pernah terjadi sepanjang hidupnya.

                Parvaneh menatap Ove, kedua anak perempuannya, dan
            kedua petugas keamanan itu untuk waktu lama.
                “Kami kemari untuk menjenguk suamiku. Dia kecelakaan.
            Sekarang, aku akan mengajak anak-anak masuk untuk




                                       166
   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176