Page 206 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 206
memperbaiki mutu pembelajaran. Model ini sejalan dengan
Glickman et al. (2010) yang menekankan pentingnya supervisi
kolaboratif untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap program
peningkatan mutu.
(3) Dimensi Kemaslahatan dan Pemberdayaan (Wakaf Pengetahuan)
Hasil dari proses supervisi diarahkan untuk memberikan manfaat
seluas-luasnya bagi peserta didik dan lembaga. Kepala madrasah
berperan sebagai fasilitator yang memberdayakan potensi guru,
sedangkan guru menjadi agen kemaslahatan melalui praktik
pembelajaran yang berkualitas dan beretika.
c) Langkah-Langkah Model Supervisi Wakaf dan Hibah
Berdasarkan studi literatur supervisi Islami dan manajemen
pendidikan, model ini dapat diimplementasikan melalui empat langkah
strategis:
(1) Perencanaan Partisipatif (niat ikhlas dan kesepahaman visi)
Kepala madrasah mengajak guru menyusun rencana supervisi
bersama, berdasarkan kebutuhan nyata dan nilai-nilai spiritual.
(2) Pelaksanaan Kolaboratif (praktik hibah tenaga dan waktu)
Proses supervisi dilakukan secara dialogis, terbuka, dan
mendukung, bukan menilai secara hierarkis.
(3) Pembinaan Reflektif (wakaf ilmu dan ide)
Guru dan kepala madrasah melakukan refleksi bersama untuk
menemukan solusi peningkatan pembelajaran.
(4) Evaluasi Kemaslahatan (orientasi manfaat sosial)
Evaluasi berfokus pada sejauh mana supervisi membawa manfaat
nyata bagi kualitas pembelajaran dan kesejahteraan warga
madrasah.
Langkah-langkah tersebut menggambarkan bahwa model ini
menekankan spiritual leadership, mutual empowerment, dan shared
responsibility sebagai inti dari supervisi wakaf dan hibah.
d) Manfaat dan Implikasi Strategis
Penerapan model supervisi wakaf dan hibah memiliki implikasi
strategis terhadap peningkatan fungsi madrasah dalam tiga aspek:
(1) Aspek profesionalitas: meningkatkan motivasi, tanggung jawab,
dan kompetensi guru.
(2) Aspek kelembagaan: memperkuat budaya kolaboratif, transparansi,
dan rasa memiliki terhadap madrasah.
(3) Aspek sosial-spiritual: menumbuhkan semangat pengabdian,
solidaritas, dan orientasi kemaslahatan di kalangan seluruh warga
madrasah.
Model ini pada dasarnya merupakan sintesis antara konsep supervisi
akademik modern (seperti yang dikemukakan Sergiovanni, 1992) dengan
nilai-nilai filantropi Islam (wakaf dan hibah) yang menekankan tanggung
jawab sosial dan pengabdian moral. Oleh karena itu, model supervisi
wakaf dan hibah dapat menjadi pendekatan khas madrasah yang
membedakannya dari model supervisi di lembaga pendidikan umum.
39

