Page 205 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 205
kolaborasi, dan kemanfaatan bersama dalam mewujudkan madrasah
yang unggul, berkarakter, dan berkeadaban.
4.3.5 Merumuskan Model Supervisi Wakaf dan Hibah Sebagai Solusi
Strategis Peningkatan Fungsi Madrasah
Berdasarkan hasil kajian teoretis dan temuan empiris,
pengembangan model supervisi yang berlandaskan nilai wakaf dan hibah
non-finansial dapat menjadi solusi strategis dalam memperkuat fungsi
madrasah sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan sosial. Model ini
bertolak dari pandangan bahwa supervisi tidak hanya berorientasi pada
pembinaan kinerja guru secara teknis, tetapi juga merupakan proses
pembinaan moral dan spiritual yang mendayagunakan seluruh potensi
sumber daya manusia secara ikhlas, kolaboratif, dan berorientasi pada
kemaslahatan bersama.
a) Landasan Konseptual
Secara konseptual, wakaf dan hibah non-finansial mencerminkan
bentuk pengabdian tanpa pamrih yang bernilai ibadah, sebagaimana
dijelaskan oleh Kahf (1998) bahwa wakaf tidak terbatas pada harta benda,
tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk tenaga, ilmu, waktu, dan ide
yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam konteks madrasah, semangat
wakaf dan hibah ini dapat diadaptasi ke dalam fungsi supervisi sebagai
pola pengabdian guru dan kepala madrasah terhadap peningkatan mutu
pendidikan tanpa menuntut imbalan material.
Dari perspektif manajemen pendidikan Islam, pendekatan ini sejalan
dengan prinsip tazkiyah (penyucian niat) dan ta‘āwun (kerja sama) yang
menekankan kemurnian niat dan kolaborasi dalam menjalankan amanah
pendidikan. Mulyasa (2017) menegaskan bahwa supervisi pendidikan
yang efektif harus mengandung unsur keteladanan, ketulusan, dan
pemberdayaan, bukan sekadar penilaian formal. Dengan demikian, nilai
wakaf dan hibah dapat memperkuat aspek spiritual dan sosial supervisi
sehingga kegiatan tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga
mengandung makna ibadah dan tanggung jawab moral.
b) Dimensi Model Supervisi Wakaf dan Hibah
Model supervisi wakaf dan hibah dapat dirumuskan melalui tiga
dimensi utama, yaitu:
(1) Dimensi Keikhlasan dan Amanah (Wakaf Diri)
Kepala madrasah dan guru melaksanakan supervisi sebagai wujud
pengabdian dan tanggung jawab spiritual, dengan menempatkan
waktu, tenaga, dan keilmuan sebagai “wakaf diri” untuk kemajuan
lembaga. Prinsip ini mengubah orientasi supervisi dari
“pengawasan” menjadi “pengabdian bersama” demi peningkatan
kualitas pembelajaran.
(2) Dimensi Kolaborasi dan Ukhuwah (Hibah Ide dan Tenaga)
Supervisi dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dan
kolaboratif yang menumbuhkan ukhuwah antara kepala madrasah,
guru, dan staf. Hibah dalam konteks ini dimaknai sebagai
pemberian ide, waktu, dan tenaga secara sukarela untuk
38

